Di sebuah sudut kota, di antara tumpukan kain dan benang, Thresia Mareta berbicara dengan mata berbinar. Bukan tentang tren fesyen terbaru, melainkan tentang nasib para perajin batik dan penjahit yang keahliannya perlahan memudar. Lebih dari itu, ia menyoroti akar masalahnya: bagaimana mungkin keterampilan ini diwariskan jika para pemiliknya saja tak bisa hidup layak?
Menyelamatkan Keterampilan dengan Mensejahterakan Perajin
Thresia meyakini, regenerasi perajin bukan hanya soal anak muda yang malas belajar. Faktanya, banyak yang melihat orang tua mereka bekerja keras tapi tak cukup memenuhi kebutuhan. Wajar jika generasi berikutnya memilih pekerjaan yang lebih menjanjikan secara finansial. Karena itu, pelestarian budaya tak cukup dengan menyimpan kain atau produk jadi, melainkan dengan memastikan tangan-tangan perajin tetap bekerja dan dihargai.
“Kita harus melestarikan tangannya, bukan hanya hasilnya. Keterampilan ini tidak boleh hilang,” tegasnya. Dengan upah yang layak dan rasa bangga, ia yakin para perajin akan bertahan dan bahkan menularkan keahliannya pada generasi baru.
Teras LAKON: Ekosistem yang Memulihkan Ekonomi Perajin
Dari kegelisahan itu, lahirlah Teras LAKON. Tempat ini bukan sekadar ruang produksi, melainkan laboratorium hidup. Di sini, pengetahuan dan teknik wastra tradisional Indonesia dikumpulkan, dipelajari, lalu diajarkan kembali pada perajin. Tujuannya, agar keterampilan mereka terus terasah dan bernilai jual.
Hasil karya mereka kemudian dikelola LAKON menjadi produk fesyen yang dipasarkan. Dengan begitu, perajin bukan sekadar bagian dari rantai produksi, tapi juga bagian dari ekosistem yang saling menguntungkan. Mereka mendapat penghasilan lebih baik dan yang terpenting, muncul rasa bangga atas karya tangannya sendiri. Inilah yang perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaannya.
Keberlanjutan dari Proses Produksi hingga Penghargaan
Bagi Thresia, fesyen berkelanjutan bukan cuma soal bahan ramah lingkungan. Ia menekankan pentingnya proses produksi yang efisien. Di LAKON, pemotongan kain dilakukan secermat mungkin untuk meminimalkan limbah. Sisa kain pun disulap menjadi produk baru yang bernilai ekonomi. Layanan perbaikan dan modifikasi pakaian juga ditawarkan agar pakaian awet dipakai.
Dedikasi Thresia mengangkat budaya Indonesia lewat fesyen membawanya meraih penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis. Ini menjadi pengakuan atas usahanya mempromosikan warisan budaya hingga kancah internasional.
Menciptakan Ruang Kreativitas bagi Desainer Muda
Sebagai Advisor Jakarta Fashion Festival, Thresia juga peduli pada ruang berkreasi desainer muda. Ia melihat anak muda kini lebih berani bereksperimen, namun butuh wadah untuk unjuk karya. JF3 hadir dengan panggung yang selalu berganti tema, mendorong kreativitas tanpa batas.
Perjalanan Thresia dan LAKON menunjukkan bahwa fesyen bisa menjadi medium pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi. Ini bukan sekadar bisnis, melainkan gerakan untuk menjaga warisan leluhur tetap hidup dan relevan.